Budaya Kita, Identitas Kita
Keterangan: Gaya hidup sehat dan rajin merawat diri dengan bahan tradisional adalah rahasia Martha Tilaar tetap bugar dan cantik sampai sekarang. Sumber: Koleksi Pribadi Martha Tilaar
PROFIL
  • Lahir: Kebumen, Jawa Tengah
  • 4 September 1937
  • Suami: Prof.Dr.HAR Tilaar MSc.Ed

KARIER
  • Pendiri dan Pemimpin Martha Tilaar Group

PENDIDIKAN
  • Jurusan Sejarah IKIP Jakarta
  • Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS
  • Doktor Kehormatan "Fashion and Artistry" dari World University Tucson, Arizona, AS

PENGHARGAAN
  • 2016: Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dhama dari Presiden RI
  • 2013: “Women Leading The Way Award” dari Indiana University Women’s Philanthropy Council
  • 2012: Penghargaan Perekayasa Utama Kehormatan untuk Kategori Perawatan dan Herbal dari BPPT
  • 2010: “The Outstanding Contribution 2000-2010” dari PBB atas partisipasinya untuk Global Compact
  • 2009: “The Most Admired Enterprise” di ASEAN untuk Inovasi dari ASEAN Business Council

Martha Tilaar mendapat Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Joko Widodo pada 2016. Wanita kelahiran Kebumen, 4 September 1937, ini dianugerahi penghargaan oleh negara karena telah berhasil memodernisasi dan membangkitkan kembali budaya hidup sehat melalui jamu. Bintang Budaya Parama Dharma merupakan penghargaan tertinggi di bidang kebudayaan yang diberikan pemerintah.

“Tentunya saya tidak mengira. Ini merupakan anugerah yang luar bisa dalam hidup saya. Saya sebagai pribadi menerima ini dengan bahagia, tetapi juga dengan beban. Saya harus lebih berprestasi, bisa lebih hebat lagi karena menerima bintang hebat ini, dan lebih berguna bagi masyarakat serta kaum perempuan di Indonesia,” kata Martha Tilaar menanggapi tanda kehormatan yang diterimanya.

Martha mengemukakan apa yang ia lakukan selama ini adalah upaya melestarikan budaya bangsa, khususnya untuk jamu. Dan, apa yang ia lakukan tersebut menunjukkan bahwa kaum perempuan sesungguhnya dapat memainkan peran itu. Budaya bangsa Indonesia dalam bidang herbal sangat kaya. Karena itu, katanya, budaya tersebut perlu dilestarikan dan dikembangkan.

“Kalau kita melestarikan budaya itu (baca: jamu) berarti kita punya identitas budaya Indonesia. Sebab, kadang-kadang kita terlalu terpesona pada kebudayaan luar. Kita anggap kebudayaan luar itu luar biasa, sementar kebudayaan kita sendiri dinilai kampungan, biasa-biasa saja. Ini sikap yang tidak benar. Sebagai bangsa justru kita harus bangga terhadap kebudayaan kita sendiri karena ia adalah identitas bangsa. Identitas pribadi kita,” ujarnya sembari bercerita mengapa ia tertarik melestarikan dunia jamu di Tanah Air.

Pengusaha kecantikan ini mengaku awalnya ia pun sangat mengagumi kebudayaan dari luar, khususnya Barat. Ketika mengikuti kuliah di Academy of Beauty Culture, Bloomington, AS, tahun 1968, Martha yang sempat mencat rambutnya jadi pirang dan mendapat protes dari sang suami, Prof Tilaar, mendapat tugas dari dosennya, Mrs Hancock, agar membuat kertas kerja tentang kecantikan lokal dari Indonesia. Ia mengaku sangat terkejut, bahkan sempat menangis, karena sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu.

Seorang sahabat Martha asal Jepang. Miyako, menghiburnya agar tidak perlu bersedih. Sahabatnya itu memberinya buku tentang kecantikan di Jepang, khususnya tentang geisha. “Dosen saya bertanya, ‘Martha berasal dari mana?’ Saya menjawab dari Indonesia,” tutur Martha. “Lalu kenapa kamu membuat paper-mu tentang kecantikan dari Jepang?” kata Martha menirukan pertanyaan lanjut sang dosen. “Saya enggak bisa jawab. Saya hanya bisa menangis. Akhirnya saya bilang, saya tidak tahu kultur saya. Dosen saya bilang kamu harus malu dengan dirimu sendiri. Inilah yang membuat saya harus pulang dan mendalami budaya sendiri,” kenang Martha tentang pengalaman pahit yang membuatnya bertekad untuk mendalami kecantikan ala Indonesia setelah pulang ke Tanah Air tahun 1969.

Begitu tiba di Tanah Air, Martha langsung menggali kecantikan tradisional Indonesia. Dibantu oleh eyangnya yang dikaruniai umur panjang karena selalu minum jamu, Martha mencatat ilmu tentang jamu dari para dukun beranak. Dengan bekal ilmu itu ia mulai membuka salon kecantikannya di sebuah garasi berukuran 4 x 6 meter di daerah Menteng, Jakarta. Ia dibantu oleh seorang asisten bernama Sipon. Pada awalnya, salonnya sempat digosipkan macam-macam, akan tetapi berkat kerja kerasnya justru para ekspatriat banyak yang datang merawat kecantikan di salonnya. Karena pelanggan makin banyak, Martha lantas meminta keluarganya agar rumah tempat tinggal mereka dijadikan salon, sementara mereka pindah ke garasi. Dengan prinsip DJITU, yaitu Disiplin, Jujur, Iman/Inovatif, Tekun, dan Ulet, bisnis yang dinahkodai oleh Martha Tilaar kini telah berkembang pesat. Ia pun berharap generasi muda sekarang perlu miliki jiwa “Djitu” agar bisa maju.