Pembuka Pendidikan Guru di Jawa


Keterangan: Foto diambil dari Museum Van Lith di Muntilan
PROFIL
  • Lahir: Oirschot, Brabant Negeri Belanda
  • 17 Mei 1863
  • Wafat : 9 Januari 1926

PRESTASI
  • Pembuka Pendidikan Guru di Jawa

PENGHARGAAN
  • Penghargaan Tanda Kehormatan (Satyalancana) Presiden Republik Indonesia tahun 2016.

“Kesan saya yang terdalam tentang Van Lith adalah bahwa ia sangat menghargai budaya. Beliau berpendapat bahwa kebudayaan itu mempersatukan umat manusia. Lewat kebudayaan kita bisa saling bertemu, apa pun latar belakang kita, baik latar belakang agama, negara maupun etnis disatukan dalam. Lewat budayalah kita bisa berdialog dan bertemu satu dengan yang lain.” Demikianlah kira-kira kesan Romo Hasto, pengarang buku Van Lith Pembuka Pendidikan Guru di Jawa (2009), saat ditemui di kediamannya di Perpustakaan Ignatius College di Yogyakarta.

Guna merasakan atmosfer dan jejak-jejak Van Lith di sekolah itu, berkeliling melihat lingkungan sekolah seminari yang teduh dan penuh ketenangan itu adalah salah satu pilihan menarik. Namun, untuk mengenal lebih dekat perjuangan Van Lith, bagi Romo Hasto, tempatnya tak lain dengan berkunjung ke Museum Misi Muntilan. Di sanalah karya terbesar Van Lith dapat disaksikan, yaitu berupa perjuangan Van Lith ketika awal mula mendirikan sekolah di Jawa.

Menurut Romo Hasto, kontribusi terbesar Van Lith adalah apresiasinya yang sangat tinggi kepada budaya lokal. Oleh karena itu, sejak ia datang pertama kali di tanah Jawa, ia langsung mempelajari sejarah dan budaya. Karena, menurut Van Lith, tidak mungkin seseorang dapat mencintai orang lain tanpa mengenal sejarahnya, tanpa mengenal budayanya. Maka ia menganjurkan para misionaris Katolik yang datang ke Indonesia harus belajar bahasa lokal, sebagai syarat sebelum ia mulai bekerja. Lewat bahasalah seseorang dapat masuk ke dalam hati orang itu. Inilah sumbangan terbesar Van Lith untuk generasi berikutnya.

Van Lith memiliki nama lengkap Fransiscus Georgius Yosephus van Lith SJ, yang akrab disebut Romo Van Lith. Ia dilahirkan tanggal 17 Mei 1863 di Dusun Oirschot, Brabant, Negeri Belanda. Ketika berusia empat tahun, dia mengikuti orangtuanya pindah ke Eindhoven, kota terbesar di Brabant yang waktu itu hanya dihuni oleh beberapa ribu orang. Van Lith kecil hidup dalam lingkungan iman Katolik yang kuat. Dan, pengaruh didikan iman sang ibu sangat kuat. Dia juga termasuk anak yang pandai. Sosok Santo Fransiscus yang dikenal dari buku yang dibacanya mendorong Van Lith ingin menjadi orang suci seperti santo ini. Maka, pada usia 12 tahun, Van Lith menyatakan dirinya imam. Setelah menamatkan sekolah teologi yang ia jalani selama tiga tahun, Van Lith ditahbiskan sebagai imam pada 8 Desember 1894. Demikianlah awal mula perjalanan hidupnya yang mengantarkannya kemudian untuk bertugas di tanah Jawa. Jika dikristalkan lagi terkait kontribusi Van Lith, maka sumbangan terbesarnya bagi negeri ini tak lain adalah bidang pendidikan. Dan, pendidikannya itu tidak bisa dipisahkan dari apa yang disebut sebagai budaya lokal. Pada waktu Van Lith memulai pendidikan, ia membolehkan anak-anak tetap berpakaian dari mana ia berasal. Ada saat-saat tertentu di mana Van Lith memberikan uang saku kepada anakanak agar pergi ke pasar-pasar, agar anak-anak itu bisa lagi makan makanan dari mana ia berasal. Sebab, biasanya ketika di asrama makanan tersedia sehingga berbeda dengan makanan yang mereka makan di kampungnya masing-masing. Maka, ketika pergi ke pasar, anak-anak itu bisa kontak langsung dengan makanan yang mereka cicipi ketika kecil dulu. Lebih dari itu, kurikulum pendidikan yang disusun Van Lith memberikan ruang yang cukup untuk anak-anak mengembangkan budayanya masing-masing. Misalnya anak-anak masih diberikan kesempatan untuk menonton wayang, membawa gamelan ke sekolah, dan semuanya itu merupakan bagian dari pendidikan yang ada.

Van Lith sangat mengagumi budaya Jawa. Atas kecintaan inilah maka Van Lith belajar bahasa dan budaya Jawa dengan sangat baik. Sampai-sampai jika ia berbicara bahasa Jawa kita tidak mengira bahwa ia sebetulnya orang Belanda yang sedang bertugas kepasturan di tanah Jawa. Karakter yang dibangun Van Lith pun sangat kuat sekali corak kejawaannya. Inilah kontribusi lainnya untuk Indonesia, terkait dengan pelestarian budaya Jawa ini, khususnya budaya Jawa Tengah tempat di mana Van Lith menjalankan misinya.

Pendidikan yang dimulai Van Lith sebetulnya tidak berbeda pada mulanya dengan sistem pendidikan yang dijalankan pemerintah kolonial pada saat itu. Karena, baginya, gagasan menyelenggarakan pendidikan itu pada prinsipnya sangat baik, sehingga ia pun mendukung program pemerintah kolonial terkait pendidikan. Meski pada akhirnya Van Lith sendiri mengoreksi sistem pendidikan yang dibangun pemerintahan Belanda pada saat itu. Menurut Van Lith, Pemerintah Belanda dalam pendidikan sangat paternalistik. Artinya, Pemerintah Belanda merasa sangat tahu dan mengerti dengan apa yang diperlukan orang Jawa. Satu sisi Van Lith mengikuti Pemerintah Belanda untuk membangun lembaga pendidikan, pada sisi yang lain ia menolak semata pendidikan model Belanda itu. Ia berusakan menerjemahkan model pendidikan yang cocok untuk masyarakat pribumi pada saat itu, yaitu pendidikan lewat budaya.

Pada saat itu pendidikan yang baik dianggap menggunakan bahasa Belanda, maka Van Lith pun menggunakan bahasa Belanda tanpa melupakan apalagi meninggalkan bahasa Jawa itu sendiri, serta unsur budaya yang ada di baliknya itu. Pengantar pendidikan dalam bahasa Belanda, tetapi lingkungan hidupnya itu tetap berlatar belakang budaya Jawa. Jenis pendidikan seperti inilah yang diperkenalkan oleh Van Lith. Di samping itu, Van Lith pun tetap mempertahankan pendidikan dengan suasana kampung dan persawahan dan akan-anak juga dibiasakan tetap memakai pakaian tradisional. Ia sedikit pun tidak mengubah cara hidup anak didiknya.

Van Lith berpendapat bahwa pendidikan yang baik sangat bergantung pada kualitas guru. Oleh karena itu ia bercita-cita untuk mendirikan sekolah guru dengan harapan dapat mendidik guru-guru yang berkualitas. Dengan demikian dari produksi guru-guru yang berkualitas inilah nanti akan tersebar nilai-nilai utama kepada masyarakat luas. Van Lith membuka pendidikan untuk siapa pun, tanpa melihat latar belakang agama mereka. Sampai saat ini model sekolah berasrama, sebagaimana dirintis Van Lith, masih diminati oleh banyak masyarakat luas. Di dalam model pendidikan seperti inilah terjadinya integrasi pendidikan di sekolah dan juga di luar sekolah. Pendidikan karakter pun dapat dimunculkan lewat pendidikan jenis model ini.

Sebetulnya sistem yang dipergunakan Van Lith bukan semata asrama melainkan “sistem konvic”. Sistem ini menjadi semacam perpaduan antara sistem pendidikan tradisional Jawa (padepokan) dengan pengajaran disiplin modern. Pada zamannya, model padepokan ini menonjol dalam pesantren tempat anak-anak Islam berguru ilmu keagamaan. Sejak tahun 1904, Van Lith memang jarang sekali bepergian, sehingga hidupnya menjadi seorang guru tetap di kompleks yang besar. Bagi orang Jawa, Van Lith bukanlah orang kulit putih yang menjadi alat pemerintah atau orang kulit putih pemilik perkebunan. Sebagai tokoh rohani, Van Lith tidak pernah menafikan ungkapan religius kejawen. Tetapi ia bukan seperti penyembuh tradisional (dukun). Ia seperti guru agama bebas model yang tindakan hidupnya cocok dengan nilai-nilai iman Kristiani (baca Pendidikan Katolik Model Van Lith: Tim Edukasi MMM PAM, 2008: 35)

Seluruh hidup Van Lith didedikasikan untuk pengembangan pendidikan. Hanya di masa tuanya Van Lith mulai berbicara politik, di mana situasi pada saat itu mendorongnya untuk berbicara politik. Di mana-mana orang-orang banyak yang berbicara tentang kemerdekaan Indonesia. Karena memang Van Lith sendiri sudah lama tinggal di tanah Jawa, mau tidak mau ia pun menyampaikan pandangan politiknya. Ia memiliki pengalaman unik ketika diutus Pemerintah Belanda untuk mengadakan studi banding mengenai pendidikan ke Filipina. Van Lith yang dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian khusus dengan pendidikan pribumi, ketika ia diutus ke sana ia menemukan hal yang baru, yaitu pergolakan politik di Filipina: bagaimana orang-orang pribumi Filipina yang sudah lama berada di bawah jajahan Spanyol justru mengusir orang Spanyol. Ia menyimpulkan bahwa penyebab dari itu semua karena orang-orang Spanyol secara budaya kehidupannya tidak menyatu dengan orang-orang pribumi. Ia pun mulai mengutarakan pemikiran politiknya bahwa Pemerintah Belanda harus mulai memikirkan apa yang menjadi keprihatinan masyarakat pribumi.

Dalam bidang pendidikan, Van Lith sangat dihargai baik oleh masyarakat pribumi maupun oleh pemerintahan Belanda. Tetapi di bidang politik berbeda. Lantaran mencintai pribumi, ia memiliki perbedaan yang sangat tajam dengan Pemerintahan Belanda. Pandangan-pandangan politiknya sangat mendukung pandangan politik pribumi. Di sinilah terjadinya konflik keras antara dirinya dengan pemerintahan Belanda. Ia sangat vokal terhadap apa yang menjadi aspirasi penduduk pribumi. Van Lith pernah menulis untuk pemerintahan Belanda yang bunyinya sebagai berikut: “Era dominasi ras putih sudah berakhir. Tidak untuk seterusnya satu orang kulit putih akan bertahan hidup di hadapan 100.000 orang Asia. Sikap arogansi-lah yang menjajah bangsa Jawa melulu karena mereka Jawa. Akuilah hak-hak pribumi jika kamu menginginkan hak-hakmu juga diakui. Dalam Gereja Kristus tidak ada Yahudi atau Romawi atau Yunani; oleh karena itu juga tidak ada Jawa atau Belanda. Apa yang sejak awal mula di dalam Gereja sudah menjadi hukum, sekarang terapkanlah juga di luar Gereja; mulai dari sekarang orang Belanda, Indo dan Jawa seharusnya hidup bersama dan hidup berdampingan sebagai saudara; kalau tidak dalam jangka waktu yang singkat mereka akan terpecah-belah.” (Dikutip dari buku Romo Hasto, Van Lith Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, 2009: 214 – 215).

Sudah lama Van Lith berpulang ke Sang Pencipta yang kepada-Nya ia mendedikasikan segenap hidupnya. Meski begitu, lembaga pendidikan yang dulu dirintisnya terus berkibar sampai saat ini. Bahkan beberapa muridnya sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional. Sewajarnyalah jika Van Lith mendapatkan anugerah Penghargaan Tanda Kehormatan (Satyalancana) dari Presiden Republik Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas ketulusan perjuangan dalam memajukan sistem pendidikan di Indonesia. Apalagi dalam surat terakhir Romo Van Lith, menjelang tutup usia, ia dengan tegas menyatakan, jika bisa memilih, pilihannya jatuh ke Hindia Belanda (Indonesia) ketimbang negaranya, Belanda. []