Keterangan:
PROFIL
  • Lahir: Magelang, Jawa Tengah
  • 29 Januari 1938

PENDIDIKAN
  • Sekolah Kepandaian Putri (SKP)
  • Kursus Akting di ATNI dan Kino Workshop

PENGHARGAAN
  • 2016: Satyalancana Kebudayaan dari Presiden RI
  • 2012: Lifetime Achievement Award dari Festival Film Bandung
  • 1992: Penghargaan Kesetiaan Profesi Keartisan dari Dewan Film Nasional

Mak Nyak, begitu ia selalu dipanggil setelah sukses dengan sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, merasa sangat senang ketika mendapat kabar mendapat tanda kehormatan dari Pemerintah RI. “Terima kasih Pak Jokowi, karena masih ingat saya. Terima kasih, Pak Menteri,” ujarnya.

Artis senior Aminah Cendrakasih yang telah mengabdikan dirinya selama 55 tahun di dunia akting memang mendapat anugerah berupa Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Joko Widodo pada 2016. Ia mulai terjun ke dunia akting saat industri film nasional kita mulai dirintis tahun 1950-an, dan tetap bertahan menjelang industri film nasional meredup. Bahkan seperti “mati suri” pada dekade 1990-an. Namun, sejak 2006, Aminah sudah tidak bisa lagi tampil di layar lebar dan televisi karena telah kehilangan penglihatan akibat glukoma. Ia pun sudah tidak bisa berdiri lagi, hanya berbaring di tempat tidur.

Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohon, Aminah pun mengikuti jejak kedua orangtuanya terjun ke dunia akting. Sejak masih sekolah di sekolah kepandaian putri (SKP), putri pasangan pelawak Husni Nagib dan artis Wolly Sutinah ini sudah mengenal dunia panggung. Mak Wo, ibunya, menginginkan Aminah melanjutkan sekolah, akan tetapi lingkungan keartisan di rumahnya membawanya terjun ke dunia akting.

Meskipun hanya bisa berbaring di tempat tidur di rumah anaknya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, ia tampak tabah dengan apa yang dialami. “Saya pasrah dengan keadaan saya. Mungkin saya disuruh untuk beristirahat. Dari dulu saya kerja saja, dan sekaranglah saatnya saya bisa beristirahat,” ujarnya.

Ingatan Aminah masih kuat, walau ia kini hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ia menceritakan perjalanannya di dunia akting sejak tahun 1950-an. “Dulu, kalau kita mau main film, harus teken kontrak, lalu membaca skenario, dan proses pengambilan gambar bisa sampai empat bulan. Mau tidak mau kita harus meninggalkan sekolah,” kenang artis yang main film pada usia 13 tahun lewat filmnya “Rindu” (1951). Di kalangan artis, Aminah dikenal sebagai artis yang cepat menghafal dialog dalam skenario. “Bahkan saya sering mendapat peran antagonis dalam film-film saya. Saya mempelajari peran-peran itu berdasarkan skenario yang saya dapat. Tak masalah bagi saya mendapat peran seperti itu. Saya jalani saja. Baru pada tahun 1970-an saya mendapat peran sebagai ibu atau mak, seperti dalam sinetron ‘Keluarga Is’, ‘Rumah Masa Depan’, dan ’Si Doel Anak Sekolahan’,” kenangnya. Setelah membintangi film “Habis Gelap Terbitlah Terang” (1959), ia sempat menghilang dari dunia film. Baru pada tahun 1970 ia kembali lagi dan tampil di sejumlah sinetron. Tahun 1971 ia kembali main film, tampil dalam film “Penunggang Kuda dari Tjimande” (1971) dan “Jang Djatuh Di Kaki Lelaki” (1971).

Nama Aminah justru meroket lewat sinetron. Salah satunya adalah “Rumah Masa Depan” (1984- 1985). Sinetron ini mengisahkan sebuah keluarga sederhana tetapi bahagia dengan tokoh Bayu (Septian Dwi Cahyo), Pak Sukri (Deddy Sutomo), Nenek (Wolly Sutinah), Kakek (A. Hamid Arief), Gerhana (Andi Ansi), dan Bu Sukri (Aminah Cendrakasih).

“Sinetron saya yang sukses adalah ‘Si Doel Anak Sekolahan’ (1994-1997). Semula itu hanya enam episode. Ternyata sukses. Saya ditawari main sebagai Mak Nyak. Ketika saya tahu Benyamin S dan Rano Karno ikut main, saya terima tawaran itu,” tutur Aminah tentang sinetron yang disutradarai oleh Rano Karno (sekarang gubernur Banten) itu. Film televisi terakhir yang diperankannya adalah “Hidayah” (2005).

Aminah yang bermain dalam puluhan film dan sinetron, baik itu sebagai pemeran pembantu maupun utama, berharap film dan sinetron Indonesia makin berbobot. Ia mengatakan, artis harus disiplin dalam menjalankan tugasnya. []