Keterangan:
PROFIL
  • Usia: 85 tahun
  • Pekerjaan: Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

PENGHARGAAN
  • 2016: Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah RI
  • 1985: Dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Sastra

BUKU
  • Teks, Naskah dan Kelisanan Nusantara: Festschrift untuk Prof. Achadiati Ikram (Achadiati Ikram, TItik Pudjiastuti -Editor, Tommy Christomy -Editor, diterbitkan Yayasan Pernaskahan Nusantara, 2011)
  • Istiadat Tanah Negeri Butun: Edisi Teks dan Komentar Djambatan dan Yayasan Naskah Nusantara, 2005)
  • Bungai Rampai Bahasa, Sastra dan Budaya(Intermas, 1988)
  • Hikayat Sri Rama: Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur (Penerbit UI, 1980)

Prof. Dr. Achadiati Ikram menerima Tanda Kehormatan Parama Dharma dari Presiden RI Joko Widodo pada 2016. Ia dinilai telah mengembangkan studi filologi untuk membangkitkan apresiasi terhadap karya-karya intelektual Indonesia.

Achadiati tak menyangka atas penghargaan tertinggi di bidang kebudayaan dari pemerintah itu. “Saya belum berbuat banyak,” katanya di rumahnya. “Mungkin ada yang lebih daripada saya. Sungguh di luar perkiraan. Selama ini saya mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, seperti itulah,” lanjutnya.

Ia menjelaskan Ilmu Filologi yang ditekuninya tak banyak peminatnya. Hal itu terjadi di manamana, tidak hanya di Indonesia. Folologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari naskahnaskah lama. Ketika masih mahasiswa, ia sudah tertarik pada bidang studi tersebut. Ia menemukan banyak hal menarik dari naskah lama yang dipelajarinya. Dari sanalah minatnya pada bidang ilmu itu terus bertumbuh dan bahkan ia kemudian mendapat gelar doktor (1978) dari bidang tersebut, dan pada tahun 1985 dikukuhkan sebagai guru besar tetap di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UI untuk bidang filologi juga.

Achadiati yang masih mengajar dan membimbing mahasiswa dari program S-1 sampai S-3 itu mengemukakan, Indonesia memiliki harta warisan naskah lama yang luar biasa banyaknya. Naskah lama berbahasa Jawa saja tidak kurang dari 19.000. Belum terhitung naskah dari Melayu, Bugis, Bali, Lombok, Madura dan banyak lagi.

Sayang, naskah-naskah lama tersebut belum banyak disentuh. “Baru sekitar 10 persen,” ujarnya. Padahal, naskah-naskah lama itu memiliki isi yang luar biasa berharga. “Saya menganggap kita sebagai bangsa perlu mengetahui sejarah bangsa kita untuk mengembangkan jatidiri kita. Kita sebagai bangsa tidak mempunyai jatidiri. Kita tidak tahu apa dan dari mana kita. Kita mempelajari sejarah dan gaya bangsa lain, tetapi budaya kita sendiri kita tak paham. Dengan mempelajari naskah lama kita bisa mengenal diri kita dan hal itu akan membuat jatidiri kita akan jadi kokoh,” ia menegaskan.

Melalui naskah lama yang diteliti kita bisa mendapat gagasan atau pemikiran tentang jatidiri kita. Ia memberi contoh naskah lama Negarakertagama. Di sana dilukiskan raja yang memperhatikan rakyat dengan melakukan apa yang kita sebut sekarang sebagai “blusukan”. Hal itu dilakukan raja demi mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Ia mengungkapkan, Indonesia telah memiliki naskah lama kesusastraan yang berusia sekitar 1.200 tahun. Itu berarti bangsa Indonesia telah menyimpan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Menurut dia, naskah tersebut harus diteliti, bukan hanya mengambil dari Barat saja konsep mengenai pemerintahan atau kesejahteraan suatu negara.

“Sebetulnya bisa kita cari sendiri dari naskah lama. Saya tidak membenci Barat. Mereka pun mendapat itu juga dengan meneliti naskah lama dari budaya Latin ribuan tahun lalu. Kemajuan mereka berasal dari respek mereka dari masa lalu. Dan, kita sepenuhnya ambil dari mereka boleh saja, akan tetapi kita sebenarnya mempunyai sendiri,” jelasnya.

Achadiati yang gemar memelihara kucing memang telah pensiun, akan tetapi ia tetap mengajar dan membimbing mahasiswanya dalam membuat tesis. Ia tidak mengisi masa pensiunnya dengan berleha-leha, tetapi terus memberi kuliah dan meneliti.

“Selalu merasa suka karena menemukan sesuatu yang menarik. Selalu memperoleh ilmu baru, tidak membosankan. Dalam studi saya selalu memperoleh ilmu baru,” ujar Achadiati yang sekarang sedang sibuk menyusun kamus filologi bersama beberapa rekan dosennya di Fakultas Ilmu Budaya UI